Rabu, 23 Maret 2011

PSIKOLOGI AGAMA DAN PENDIDIKAN ISLAM


A.     Psikologi Agama dan Cabang Psikologi
Psikologi secara umum mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia yang berkaitan dengan pikiran (cognisi), perasaan (emotion) dan kehendak (conasi). Gejala tersebut secara umum memiliki ciri-ciri yang hampir sama pada diri manusia dewasa, normal dan beradab. Dengan demikian ketiga gejala pokok tersebut dapat diamati melalui sikap dan prilaku manusia. Namun terkadang diantara pernyataan dalam aktivitas yang tampak itu merupakan gejala campuran, sehingga para ahli psikologi menambah hingga menjadi empat gejala jiwa utama yang dipelajari psikologi, yaitu pikiran, perasaan, kehendak dan gejala campuran. Adapun yang termasuk gejala campuran ini seperti intelegensi, kelelahan sugesti.
Kemudian dalam perkembangan selanjutnya mulai terungkap bahwa gejala-gejala jiwa tersebut tidak sama pada manusia yang berbeda usia. Kenyataan ini mendorong para ahli psikologi untuk mengembangkan cabang-cabang psikologi yang dapat digunakan untuk mempelajari gejala-gejala jiwa manusia pada tingkat usia tertentu. Dari sini timbullah ilmu-ilmu cabang psikologi seperti psikologi anak, psikologi remaja, psikologi orang tua.
Selanjutnya dalam kajian-kajian prikologi juga dijumpai berbagai perbedaan antara manusia yang sudah berbudaya tinggi (berpradaban) dengan manusia yang masih hidup secara sederhana (primitif), maka muncul pula psikologi primitif sebagai cabang berikutnya. Kemudian dalam kaitannya dengan mental ternyata manusia juga berbeda. Sehingga untuk mempelajarinya diperlukan adanya psikologi khusus. Maka muncullah psikologi abnormal dan para psikologi
Setelah lahirnya cabang-cabang psikologi dan kemudian menjadi disiplin ilmu yang otonom, pengembangannya tidak berhenti. Sebagai ilmu terapan, tampaknya psikologi berkaitan erat dengan kehidupan manusia secara pribadi maupun dengan lingkungan sosialnya. Kenyataan ini selanjutnya melahirkan cabang-cabang lagi menjadi psikologi kepribadian dan psikologi sosial.
Di luar itu psikologi pun berkaitan dengan profesi dan pekerjaan. Diantara cabang-cabang psikologi itu adalah psikologi klinis yang digunakan dalam bidang kedokteran. Kemudian dalam bidang pendidikan juga dikembangkan psikologi pendidikan. Psikologi sebagai ilmu terapan berkembang sejalan dengan kegunaannya.

B.      Pengertian Psikologi Agama
Psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab (Jalaluddin, et.at, 1979 : 77). Menurut Robert H. Thouless, psikologi sekarang dipergunakan secara umum untuk ilmu tingkah laku dan pengalaman manusia (Robert H. Touless, 1992 : 13).
Harun Nasution merunut pengertian agama berdasarkan asal kata yaitu al-din, religi (relegere, relogae) dan agama. Al-din (semit) berarti undang-undang atau hukum. Kemudian dalam bahasa Arab, kata ini mengandung arti kata menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan kebiasaan. Sedangkan dari kata relgi (latin) atau relegare berarti mengumpulkan dan membaca kemudian religare berarti mengikat.
Bertitik tolak dari pengertian kata-kata tersebut menurut Harun Nasution, intisarinya adalah ikatan. Karena itu  agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan dimaksud berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan panca-indera, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari.
Psikologi agama dengan demikian merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing.

C.      Ruang Lingkup dan Kegunaan Psikologi Agama
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama yang lain. Oleh karena itu menurut Zakiah Drajat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama meliputi kajian mengenai :
1.      Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang bisa (umum), seperti rasa lega dan tentram sehabis sembahyang, rasa lepas dari ketegangan batin setelah berdoa atau membaca ayat-ayat suci, perasaan tenang, pasrah dan menyerah secara berdzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan.
2.      Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap Tuhannya, misalnya rasa tentram dan kelegaan batin
3.      Mempelajari, meneliti, menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidups mati (akhirat) pada tiap-tiap orang
4.      Meneliti dan mempelejari kesadaran dan persaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turt memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
5.      Meniliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci kelegaan bathinnya
Dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan kesadaran agama. Pengobatan pasien dirumah, Rumah sakit, usaha bimbingan dan penyuluhan narapidana dilembaga pemasyarakatan banyak dilakukan dengan menggunakan psikologi ini. Demikian pula dalam lapangan pendidikan psikologi agama dapat difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan peserta didik.

D.     Psikologi Agama dan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam disini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka mereka dapat berfungsi dan berperan sebagaimana hakikat kejadiannya. Jadi dalam pengertian ini pendidikan Islam tidak dibatasi oleh institusi (kelembagaan) ataupun lapangan pendidikan tertentu. Pendidikan Islam diartikan dalam ruang lingkup yang luas.
Pendidikan Islam dalam konteks pengertian seperti yang dianjurkan Rasulullah SAW inilah yang dimaksud dengan pendidikan Islam dalam arti yang sebenarnya. Dalam kaitan ini, pendidikan Islam erat kaitannya dengan psikologi agama. Bahkan psikologi agama digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam pelaksanaan pendidikan Islam. Salah satu contoh mengenai bagaimana hubungan antara psikologi agama dan Pendidikan Islam diawal-awal perkembangan agama ini yaitu : Pada suatu hari Rasul Allah Saw didatangi seorang laki-laki yang masih awam tentang Islam. Laki-laki tersebut menanyakan tentang kewajiban Islam yang harus dipatuhi oleh penganutnya Rasul Allah Saw menjelaskan kelima prinsip (rukun) Islam kepada laki-laki dimaksud. Setelah mendengarkan penjelasan itu, maka orang tadi mengakatan kepada Rasul : “Demi Allah, aku tidak akan menambah atau mengurangi”. Dan setelah orang tersebut berlalu, maka Rasul menyatakan, bahwa jika laki-laki itu konsisten dengan apa yang dikatannya, maka ganjarannya adalah syurga (Bukhari : 19).
Contoh di atas merupakan realisasi dari anjuran Rasul Allah Saw sendiri agar dalam memberikan pendidikan harus disesuaikan dengan kadar kemampuan atas nalar seseorang. Dengan demikian dalam menghadapi orang yang masih awam terhadap agama berbeda dengan menghadapi orang yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Sebaliknya menghadapi orang dewasa harus dibedakan dengan cara menghadapi anak-anak dalam mengajarkan agama.
Pendekatan psikologi agama dalam pendidikan Islam ternyata telah dilakukan di priode awal perkembangan Islam itu sendiri. Fungsi dan peran orang tua sebagai teladan yang terdekat kepada anak telah diakui dalam pendidikan Islam. Bahkan agama dan keyakinan seorang anak dinilai sangat tergantung dari keteladanan pada orang tua mereka. Tak mengherankan jika Sigmund Freud (1856-1939) menyatakan bahwa keberagaman anak berpola dari tingkah laku bapaknya. Baik buruknya citra bapak akan ikut mempengaruhi sikap keagamaan pada anak. Bahkan menurut pendidikan Islam, bukan hanya bapak, melainkan juga ibu ikut memberi citra pada keberagaman anak-anak mereka.
Bermula dari tuntunan Al-Quran yang memuat pesan Luqman Al-Hakim kepada anaknya : Hai Anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah merupakan kezaliman yang amat besar (Q.S. 31 : 12).
Dalam informasi Al Qur’an ini terungkap bahwa seharusnya seorang bapak menuntut dan membimbing anak-anak mereka mengenal Tuhannya. Anak mengenal Tuhan melalui bimbingan  orang tua mereka. Kemudian upaya membimbing pengenalan terhadap Tuhan dan agama hendaknya dilakukan dengan penuh kasih sayang, tidak dengan perintah, melainkan melalui keteladanan orang tua.
Pembentukan jiwa keagamaan pada anak diawali sejak ia dilahirkan. Kepadanya diperdengarkan kalimat tauhid, dengan mengumandangkan azan ketelinga kanannya dan iqamat di telinga kirinya. Lalu pada usia ke tujuh hari (sebaiknya) sang bayi di Aqiqahkan, sekaligus diberi nama yang baik, sebagai doa dan titipan harapan orang tua agar anaknya menjadi anak yang sholeh dan diberi makanan yang bergizi dan halal.
Lebih lanjut, saat anak menginjak usia tujuh tahun, secara fisik mereka dibiasakan untuk menunaikan sholat (pembiasaan). Kemudian setelah mencapai usia sepuluh tahun, perintah untuk menunaikan shalat secara rutin dan tepat waktu. Dan diperkenalkan nilai-nilai ajaran agama. Bimbingan kejiwaan diarahkan kepada pembentukan nilai-nilai imani, sedangkan keteladanan, pembiasaan dan disiplin dititikberatkan pada pembentukan nilai-nilai amali.

1 komentar:

  1. terima kasih banyak untuk berbagi informasi ... Semoga Tuhan memberikan yang terbaik buat Kita Semua

    BalasHapus